Tuesday, November 19, 2013

Pangeran Pendar Bintang

           

            “Happy valentine, Vi” Cia berlari dari pintu kelas dan memeluku.
Ini cokelatnya” dia memberikan sebuah bungkusan berwarna biru muda dan berpita hijau.
            “Masih satu hari lagi Cia, tapi makasih yah cokelatnya” aku menerima bungkusan itu sembari tersenyum.
            “Gosh, aku lupa. Tapi nggak apa-apa deh, hehe” Cia nyengir.
Oya, nanti kita bikin cokelat yuk. Kamu kan pintar bikin cokelat jadi nanti sekalian ajarin aku yah”
            “Hmm, boleh tuh. Di rumahmu yah, nanti di rumahku bakalan banyak tamu”
            “Emang ada acara apaan?” Cia penasaran.
            “Nggak ada acara apa-apaan kok, tapi nanti teman-teman SMA mama aku mau dateng. Kayaknya mereka mau bikin reuni kecil-kecilan deh”
            “Oh” jawab Cia. Sepertinya jawabanku itu membuatnya puas.
            Cia menduduki tempat duduknya di sampingku. Dia terdiam sebentar, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya melalui hidung kuat-kuat. Dia terus mengulangnya selama beberapa kali sampai akhirnya dia menolehkan kepalanya ke arahku yang sedang membaca novel karya Torey Hayden. Karena merasa diperhatikan, akhirnya aku menoleh ke arahnya.
            “Apa?”
Cia tidak menjawab dan terus memperhatikan aku. Dia seperti menelusuri lekuk-lekuk wajahku dengan sangat teliti. Karena semakin bingung aku kembali bertanya. “Apa ada yang salah denganku hari ini?”
Cia sedikit tersentak dengan pertanyaan yang ku ajukan padanya.
“Tidak ada” dia menjawab dengan suara yang sedikit bimbang.
“Kalau begitu kita setuju mengerjakannya di rumahku”
“Oke” aku menjawabnya sembari mengacungkan jempolku dan tersenyum ke arahnya, Cia membalasnya dengan nyengir ala kudanya.
Bel berbunyi, dan semua anak sudah duduk di tempatnya. Selama jam pelajaran pertama berlangsung aku terus memperhatikan Cia. Dia terlihat sedang melamun, dan itu bukan kebiasaannya. Sesekali dia menghembuskan nafas panjang dari mulutnya. Seperti biasanya dia suka memainkan jari-jarinya seolah mereka hidup. Ya, Cia mengidap autisme. Sejak pertama aku masuk SMA, aku langsung akrab dengannya. Walaupun mengidap autisme, tetapi Cia tidak bertingkah laku seperti kebanyakan anak yang mengidap penyakit ini. Mungkin karena orang tua nya yang memberikan perhatian lebih terhadap putri bungsunya ini. Cia suka mengikuti berbagai acara yang ditujukan untuk anak-anak yang mempunyai penyakit autisme.
Sepertinya hari ini Cia sedang menghadapi masalah. Terlihat dari raut mukanya yang gelisah, dan sesekali dia sedikit mendesah. Bel istirahat pun berbunyi. Aku mengeluarkan kotak bekal ku, begitu pun Cia.
“Peach Croissant!” serunya ketika aku membuka kotak makan ku. “Pasti enak, kamu kan jago masak, Vi”
“Kamu mau?” tanpa menjawab dia langsung mengambil sepotong peach croissant yang ku bawa hari ini.
“Tentu” jawabnya dengan tersenyum. Aku pun membalas senyumannya.
“Kamu sedang ada masalah Ci?” aku langsung bertanya kepadanya karena dia terlihat berbeda hari ini. Cia tidak langsung menjawab, dia memperhatikan croissant yang ku berikan padanya. Menyentuhnya dengan tangan dan menelusuri setiap garis dan relief yang ada dipermukaannya.
“Ya, begitulah” jawabnya singkat, lalu memasukan croissant itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.
“Sudah ku tebak, croissant buatan mu ini enak banget!”
“Makasih” aku tersenyum tipis. “Apa masalahnya? Cerita sama aku dong”
“Kakak ku pulang besok” raut wajahnya berubah seketika.
“Lalu?”
Cia memandangku dengan tatapan datar tetapi terlihat sedikit keraguan di matanya. “Aku mau buat valentine yang spesial buat dia” sejenak kami terdiam, lalu Cia kembali berbicara “Kamu mau bantu aku kan?”
“Tentu” jawabku dengan semangat “Tetapi kenapa kamu kelihatannya kok lesu banget hari ini?”
“Nggak apa-apa kok, Cuma agak capek aja. Bunda sibuk menyiapkan kedatangan Jose dan aku diharuskan banyak membantunya kemarin, dan hari ini aku capek banget Vi”
“Iya, aku ngerti kok. Aku cuma agak bingung, soalnya nggak biasanya kamu melamun gitu”
Handphone di kantung baju Cia bergetar, ternyata ada sms yang masuk. Sesaat ku perhatikan raut wajahnya berubah. Mata cokelatnya membesar dan menampakan sikap tidak percaya.
“Jose sampai di Jakarta malam ini !” dia berseru dengan suara keras. Beberapa murid menoleh kearah kami.
“Siapa Jose?” Tanya Luna.
“Bukan siapa-siapa” ucapku.
Cia terdiam memperhatikan Luna “Dia kakak ku, dan juga pacarnya Vio” ada sedikit penekanan dalam ucapannya tersebut.
“Kenapa kamu ngomong kayak gitu ke Luna?” tanyaku pada Cia saat pulang sekolah.
            Cia terdiam dan dia terus melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, mengecek laci mejanya takut ada yang tertinggal dan memungut sampah yang berada disekitarnya. Setelah selesai melakukan aktivitasnya itu Cia menoleh kepadaku. Termangu melihat wajahku.
            “Itu memang kenyataan kan”
Satu jawaban yang mampu membuatku terdiam. Sejujurnya aku tidak terlalu peduli jika teman-temanku tahu mengenai Jose, hanya saja aku berpikir sekarang bukanlah waktu yang tepat.
            “Kenapa? Apa kamu nggak suka, Vi?” Cia merasa sedikit khawatir melihat mimik wajahku yang berubah menjadi sedikit murung.
            Aku memaksa sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalaku. “Nggak kok. Ya udah, nggak usah dipikirin katanya mau bikin cokelat? Jadi nggak?” aku tersenyum usil sambil mencolek tangan Cia.
            “Oh, iya. Tapi dirumahku nggak ada bahan-bahannya. Nanti kita mampir ke supermarket dulu yah, Vi”
            “Sip, deh. Aku juga mau beli whipe cream, soalnya mamaku mau bikin blackforest pesanan temannya”
            “Yuk, pulang!” Cia menggandeng tanganku.
            “Hayuk!” sahutku sembari membenarkan posisi tas yang kugendong.
            Kami berdua menuju gerbang sekolah yang dimana terlihat Pak Amin sudah menunggu Cia di depan sebuah sedan hitam mewah. Dia tersenyum pada kami saat berjalan menghampirinya dan siap membukakan pintu untuk kami berdua.
“Siap untuk pulang nona-nona?” guraunya saat kami hendak masuk kedalam sedan itu.
            “Mampir ke supermarket dulu pak, Cia mau beli sesuatu” Cia menjawab sembari memasuki mobil. Tak lama kami pun sudah melaju menuju supermarket dan tiba setelah menempuh perjalanan selama 10 menit dari sekolah. Cia melompat turun saat sudah sampai di tempat parkir lalu berlari kecil menuju pintu masuk utama supermarket. Aku berkata pada Pak Amin untuk menunggu kami dimobil saja dan kami akan kembali dalam waktu 20 menit dari sekarang. Pak Amin mengangguk dan masuk kembali kedalam mobil. Aku menyusul Cia yang sudah terlebih dulu sampai di pintu masuk supermarket. Dan kami mulai mencari barang-barang yang kami butuhkan untuk membuat cokelat. Kami selesai dan kembali lagi ke mobil dalam waktu 25 menit. Pak Amin tersenyum saat membukakan pintu dan membawa kami kerumah Cia dalam waktu 20 menit berkendara. Sampai dirumah Cia saat jam sudah menunjukan pukul 2.30 siang.
            Didalam rumah Cia terlihat sedikit sibuk, tetapi saat kami masuk bundanya sempat menyapa kami dan melayangkan kecupan di kedua pipi kami. Tanpa buang waktu kami langsung menuju dapur dan membongkar seluruh isi karton cokelat yang kami bawa, menyiapkan alat-alat yang diperlukan dan merebus air untuk melelehkan cokelat. Pukul 5.00 sore kami baru menyelesaikan semua pekerjaan kami. Aku sudah berniat pulang karena mama sudah menelponku untuk segera pulang. Tetapi Cia menghalangiku untuk segera pulang dengan segala cerita yang dia ceritakan padaku seolah-olah aku wajib mengetahui semua hal itu. Sampai akhirnya aku bisa terbebas darinya karena mama sudah menelponku sampai 2 kali. Aku menolak tawaran baik dari Pak Amin untuk mengantarku pulang karena rumahku hanya 3 blok dari rumah Cia, dan aku memilih untuk berjalan kaki saja.
            Selama di perjalanan pulang pikiranku melayang-layang kembali pada 6 bulan yang lalu. Semua kata-kata janji itu kembali menyesap kedalam hatiku. Sebelum dia pergi untuk melanjutkan studinya di Peru dia mengatakan janji itu. Janji bahwa dia akan kembali dengan pendar bintang yang akan dia bawakan untukku. Dan adegan itu kembali terulang kembali di benakku.
“Kamu tahu?” aku bertanya padanya, dia menoleh padaku dan membelai rambutku. Malam itu sangat dingin dan angin sukses menambah dinginnya malam itu. Kami berada di taman belakang rumahnya. Cia sedang ke dapur untuk mengambil soda tambahan untuk kami.
“Apa?” jawabnya. Aku mengamati wajahnya, sepasang alisnya tegas menghiasi kedua bola matanya yang berwarna kehijauan, matanya berbeda dari Cia yang berwarna cokelat walaupun mereka kakak-beradik. Kulitnya putih pucat kontras dengan warna rambutnya yang hitam. Hidungnya mancung dan bibirnya berwarna koral. Dia tampan, sangat tampan bagiku. Tubuhnya kekar karena sering pergi ke pusat kebugaran dan tingginya sekitar 180 cm.
“Tidak akan ada malam dan siang jika tidak ada bintang, bahkan tidak akan ada kehidupan” aku berkata sambil menerawang ke langit, mencari bintang yang paling terang dan berkata dalam hati bahwa bintang itu akan segera mati dan berubah menjadi black hole.
“Aku tahu” dia merangkul bahuku dan menyenderkannya ke bahunya.
”Tetapi apakah kau tahu? Aku bisa memunculkan pendaran bintang itu padamu” dia berkata kepadaku.
“Seperti dalam dongeng itu?” aku merebahkan kepalaku di bahu nya.
“Ya, seperti dongeng itu, aku akan pulang Vi, itu pasti. Dan aku akan membawa pendaran bintang itu pada mu.” Dia mengelus rambutku dengan lembut.
Sesungguhnya hal yang paling kuinginkan saat ini adalah dapat bersama dengannya lebih lama lagi, karena keesokan harinya setelah mengucapkan janji itu, dia pergi meninggalkan diriku.
Saat aku sampai dirumah jam telah menunjukan pukul 06.00 sore. Aku menolak tawaran makan malam dari mama dan hanya mengambil selembar roti panggang rasa cokelat yang ada di ruang keluarga. Aku menaruh tas secara sembarang dikamar dan merebahkan tubuhku di kasur yang empuk. Ada tanda sms masuk di ponselku. Itu sms dari Cia yang memberi tahu bahwa Jose akan tiba pukul 08.00 nanti dan dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Aku membalasnya dengan mengatakan bahwa aku juga tidak sabar bertemu dengannya. Aku melempar ponselku ke kasur dan segera beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan kembali pikiran dan tubuhku agar dapat segera menyelesaikan tugas sekolah yang bertumpuk.
Biasanya aku berangkat ke sekolah diantar oleh papa tetapi aku terkejut karena papa ternyata telah berangkat duluan ke kantor karena ada meeting pagi ini. Saat aku turun untuk sarapan mama terkejut melihatku dan berkata “Kenapa kamu belum berangkat? Teman kamu udah nunggu dari tadi di depan rumah, katanya mau bareng berangkatnya sama kamu”
Teman? Seingatku tidak ada satu pun temanku yang ingin berangkat sekolah dengan ku pagi ini. Dengan terburu-buru aku berlari ke teras depan dan tampaklah siluet seorang laki-laki yang sedang duduk diatas motornya, dia tersenyum melihatku dan melambaikan tangannya padaku. Itu dia! Pekik ku dalam hati. Aku menghampirinya dan dia membelai rambutku seperti biasanya, menyelipkan poniku yang terjuntai di celah kupingku.
”Hai” sapanya berbasa-basi “Apa kabar?”.
“Sangat baik” aku menjawab dengan senyum yang sangat lebar.
“Dan bagaimana dengan mu?”
“Masih agak pusing, tapi yah aku baik” dia tetap tersenyum dan dia telah membuatku terpesona oleh senyumannya.
“Siap untuk ke sekolah?”
“Tunggu sebentar, aku akan mengambil tas dulu” aku berlari kedalam dan menyambar tas ku, kemudian memberikan kecupan ringan di pipi mama yang sedang menyantap semangkuk bubur jagung dan berlari keluar. Dia sudah memakai helmnya dan menyalakan motornya. Aku melompat ke jok belakang dan memakai helm yang dia berikan.
“Sudah siap?” tanya nya.
“Siap!” aku berseru dengan antusias. Dia mengemudikan motornya dengan hati-hati dan tidak terlalu ngebut. Kami sampai di gerbang sekolah tepat pukul 06.20. Saat aku turun dia membuka helmnya dan berkata bahwa dia akan menjemputku sepulang sekolah. Aku mengangguk, tersenyum dan memberikan helm padanya lalu berjalan memasuki gerbang sekolah sambil melambaikan tangan.
Hari itu sekolah berlalu dengan sangat cepat. Sepanjang hari itu Cia terus membicarakan Jose dan kepulangannya. Sedangkan aku tidak sabar menunggu bel pulang berbunyi agar bisa segera bertemu dengannya. Pikiranku melayang, teringat akan potongan dongeng itu. Dongeng dimana sang pangeran memikat hati sang putri dengan pendar-pendar bintang yang secara ajaib keluar dari sebuah kantung yang dibawanya. Aku hanya ingat bagian itu, karena saat aku masih kecil mama belum sempat menyelesaikan ceritanya.
“Sangat romantis” gumamku dalam hati.
Bel pulang akhirnya berbunyi, dan semangatku tiba-tiba saja meningkat dua ratus persen saat mendengarnya. Aku berjalan bersama Cia menuju gerbang sekolah dan menunggu.
Lima belas menit lamanya kami menunggu sampai akhirnya sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan kami. Pak Amin keluar dan membukakan pintu untuk Cia. Cia bersikeras tidak mau pulang sebelum Jose sampai kesini. Pak Amin bingung karena sepengetahuannya Jose sudah berangkat sejak 30 menit yang lalu. Aku menghubungi ponselnya namun tidak aktif. Cia mulai khawatir dan menggigiti kuku jarinya sambil berjalan berputar-putar. Ponsel Cia berdering, panggilan itu dari Bundanya. Dia mengangkat telepon dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Dia menjatuhkan ponselnya dan menangis meraung-raung. Aku mencoba menenangkannya dan menanyakan apa yang terjadi. Tetapi dia tidak berkata apapun selain menyebutkan nama salah satu rumah sakit. Pak Amin memapahnya untuk masuk ke mobil dan menyuruhku masuk juga. Di dalam mobil aku berusaha menenangkan Cia dan menanyakan apa yang terjadi, namun dia hanya menangis sambil menarik-narik rambutnya.
Kami sampai di depan sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta. Raut wajah Pak Amin pun berubah menjadi panik. Sambil menggandeng tangan Cia dia berjalan menuju Gedung Unit Gawat Darurat. Aku mengikutinya dari belakang dan bertanya-tanya siapakah yang sakit. Pertanyaanku terjawab setelah aku melihat Bundanya Cia menangis terisak di depan sebuah Ruang ICU dan terpampang jelas dari kaca pada pintu ruangan bahwa orang yang berbaring di dalam adalah Jose. Lututku langsung lemas dan terduduk ke lantai. Air mata mengalir dari kedua mataku. Pak Amin membantuku berdiri dan mendudukanku di hadapan Cia dan Bundanya. Mereka tampak sangat terpukul dan sedih. Dan aku tidak bisa menghentikan air mata yang meleleh dari kedua pelupuk mataku ini. Aku tidak dapat membayangkan bahwa laki-laki yang kusayangi terbaring dalam ruangan itu.
Hampir selama satu jam aku menangis dalam diam. Sampai akhirnya dokter keluar dan mengatakan bahwa Jose sedang dalam kondisi koma. Dia mengalami gegar otak yang cukup parah dan ada beberapa tulang yang patah dan retak. Bundanya hanya bisa menangis lagi. Dokter menyuruhnya untuk sabar dan tetap berdoa. Pukul lima sore dia menyuruh Pak Amin mengantarku dan Cia pulang. Namun Cia merengek tidak mau pulang dan mau terus menemani Bundanya di sini. Aku pun berusaha membujuk supaya dia mau pulang, tetapi dia bersikeras dan akhirnya aku pulang sendiri.
Keheningan mencekam selama aku ada di mobil. Pak Amin hanya diam, tidak seperti biasanya, dia suka bergurau atau menanyakan hal-hal sepele. Saat tiba di depan rumahku dia mengatakan agar aku bersabar dan berlapang dada menghadapi semuanya. Aku tersenyum getir kepadanya dan kemudian masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan apapun lagi.
Sudah seminggu setelah kecelakaan itu, tetapi Cia belum juga masuk sekolah. Ponselku bergetar dan ada sebuah pesan dari Cia yang mengatakan bahwa aku harus ke Rumah Sakit setelah pulang sekolah.
Aku sempat ragu-ragu saat mendekati ruang perawatan itu. Kemudian aku berpapasan dengan Bunda Cia yang mengajakku masuk sambil tersenyum. Senyum yang sangat lelah, seakan-akan dia terus bekerja dan tidak istirahat selama berhari-hari. Aku tersenyum tipis lalu masuk ke dalam. Cia menghambur ke pelukanku dan berkata betapa rindunya dia padaku. Aku tersenyum dan membalas pelukannya. Dibalik tirai biru itu terbaring seseorang yang kurindukan. Dia menengok ke arahku dan tersenyum. Aku menghampirinya dan menggenggam bagian tangannya yang tidak ditusuk jarum infus.
“Aku merindukanmu”
“Aku juga” jawabnya sembari menggenggam tanganku.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Tidak terlalu buruk, hanya luka kecil” jawabnya sambil menunjukan sikapnya yang sok kuat.
Aku mencibirnya dan dia pun tertawa kecil. Kemudian tangannya melepas genggamanku dan membelai pipiku. Wajahnya tampak lesu namun dipaksakan untuk terlihat ceria dan segar.
“Datanglah malam ini ke taman belakang. Ke tempat kau biasanya memandangi bintang-bintang dan berandai-andai” dia berbisik di telingaku.
“Untuk apa?” Tanyaku.
“Datang saja dan kau akan melihat sesuatu yang sangat menarik” ujarnya seraya mencubit hidungku.
“Oke” aku tersenyum. Senyum yang dipaksakan karena sesungguhnya aku sangat ingin menangis melihat keadaannya.
Kemudian kami mengobrol ringan dan tertawa bersama. Bundanya masuk dan menawarkan kami kudapan. Aku mengambil beberapa dan menyuapinya kudapan itu. Hari sudah sore saat jam besuk sudah habis dan aku terpaksa harus pulang. Pak Amin mengantarku sampai rumah dan tersenyum padaku saat aku melambaikan tangan padanya.
Malam itu pukul delapan, aku sudah berada di taman yang dimaksudkan Jose. Aku duduk disebuah bangku dan memandang ke langit. Malam ini langitnya cerah dan banyak bintang bertaburan diatas sana. Tidak lama kemudian Jose datang menghampiriku dengan sebuah kursi roda. Dia terlihat tampan walau lebih pucat dari biasanya.
“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk datang kesini” aku berkata sambil mendorong kursi rodanya.
“Aku tidak memaksakan diriku, aku memang ingin datang kesini dan melihat bintang-bintang”
“Jadi kau hanya kesini untuk melihat bintang dan bukan untuk bertemu denganku” jawabku sambil memasang raut pura-pura sebal.
Dia tertawa sejenak lalu mengeluarkan sebuah kantung.
“Aku ingin menepati janjiku padamu” suaranya lebih lembut namun dalam.
“Janji?”
“Kemarilah” Jose menyuruhku untuk berhenti dan berdiri di depannya.
“Apa itu?” tanyaku sambil menunjuk kantung yang dibawanya.
“Kau akan terkejut melihatnya karena aku berhasil memecahkan teka-teki dongengmu itu” matanya berbinar-binar dan kemudian dia membuka kantung itu. Penghuni kantung itu berebut untuk keluar dan menghirup udara malam yang sejuk. Pendar-pendar cahaya terlihat menawan saat mereka terbang kesana kemari. Aku terpana melihat keindahan malam itu. Selama beberapa menit aku terhipnotis oleh keindahan itu sampai-sampai tidak menyadari sosok laki-laki di depanku ini semakin melemah dan tidak sadarkan diri. Aku bingung dan dengan panik menghubungi ponsel Cia untuk meminta bantuan. Lalu yang kuingat sisa malam itu hanyalah diisi oleh isak tangis dan suara sirine ambulans.

Kenangan itulah satu-satunya menjadi pengingatku tentang seseorang yang pernah kusayangi. Karena keesokan harinya dia telah berubah menjadi pendar-pendar cahaya yang berterbangan di langit untuk mengusir kegelapan malam.