“Ini
cokelatnya” dia memberikan sebuah bungkusan berwarna biru muda dan berpita hijau.
“Masih satu hari lagi Cia, tapi
makasih yah cokelatnya” aku menerima bungkusan itu sembari tersenyum.
“Gosh,
aku lupa. Tapi nggak apa-apa deh, hehe” Cia nyengir.
“Oya,
nanti kita bikin cokelat yuk. Kamu kan pintar
bikin cokelat jadi nanti sekalian ajarin aku yah”
“Hmm, boleh tuh. Di rumahmu yah, nanti
di rumahku bakalan banyak tamu”
“Emang ada acara apaan?” Cia
penasaran.
“Nggak ada acara apa-apaan kok, tapi
nanti teman-teman SMA mama aku mau dateng. Kayaknya mereka mau bikin reuni
kecil-kecilan deh”
“Oh” jawab Cia. Sepertinya jawabanku
itu membuatnya puas.
Cia menduduki tempat duduknya di
sampingku. Dia terdiam sebentar, lalu menarik nafas panjang dan
menghembuskannya melalui hidung kuat-kuat. Dia terus mengulangnya selama
beberapa kali sampai akhirnya dia menolehkan kepalanya ke arahku yang sedang
membaca novel karya Torey Hayden. Karena merasa diperhatikan, akhirnya aku menoleh ke
arahnya.
“Apa?”
Cia tidak menjawab dan terus memperhatikan aku. Dia
seperti menelusuri lekuk-lekuk wajahku dengan sangat teliti. Karena semakin
bingung aku kembali bertanya. “Apa ada yang salah denganku hari ini?”
Cia sedikit tersentak dengan pertanyaan yang ku ajukan
padanya.
“Tidak ada” dia menjawab dengan suara yang sedikit
bimbang.
“Kalau begitu kita setuju mengerjakannya di rumahku”
“Oke” aku menjawabnya sembari mengacungkan jempolku dan
tersenyum ke arahnya, Cia membalasnya dengan nyengir ala kudanya.
Bel berbunyi, dan semua anak sudah duduk di tempatnya.
Selama jam pelajaran pertama berlangsung aku terus memperhatikan Cia. Dia
terlihat sedang melamun, dan itu bukan kebiasaannya. Sesekali dia menghembuskan
nafas panjang dari mulutnya. Seperti biasanya dia suka memainkan jari-jarinya
seolah mereka hidup. Ya, Cia mengidap autisme. Sejak pertama aku masuk SMA, aku
langsung akrab dengannya. Walaupun mengidap autisme, tetapi Cia tidak
bertingkah laku seperti kebanyakan anak yang mengidap penyakit ini. Mungkin
karena orang tua nya yang memberikan perhatian lebih terhadap putri bungsunya
ini. Cia suka mengikuti berbagai acara yang ditujukan untuk anak-anak yang mempunyai
penyakit autisme.
Sepertinya hari ini Cia sedang menghadapi masalah.
Terlihat dari raut mukanya yang gelisah, dan sesekali dia sedikit mendesah. Bel istirahat pun berbunyi. Aku mengeluarkan
kotak bekal ku, begitu pun Cia.
“Peach Croissant!” serunya ketika aku membuka kotak makan
ku. “Pasti enak, kamu kan jago masak, Vi”
“Kamu mau?” tanpa menjawab dia langsung mengambil
sepotong peach croissant yang ku bawa hari ini.
“Tentu” jawabnya dengan tersenyum. Aku pun membalas senyumannya.
“Kamu sedang ada masalah Ci?” aku langsung bertanya kepadanya karena dia
terlihat berbeda hari ini. Cia tidak langsung menjawab, dia memperhatikan croissant yang ku berikan padanya.
Menyentuhnya dengan tangan dan menelusuri setiap garis dan relief yang ada
dipermukaannya.
“Ya, begitulah” jawabnya singkat, lalu memasukan croissant itu ke dalam mulutnya dan
mengunyahnya perlahan.
“Sudah ku tebak, croissant buatan mu ini enak banget!”
“Makasih” aku tersenyum tipis. “Apa masalahnya? Cerita
sama aku dong”
“Kakak ku pulang besok” raut wajahnya berubah seketika.
“Lalu?”
Cia memandangku dengan tatapan datar tetapi terlihat
sedikit keraguan di matanya. “Aku mau buat valentine yang spesial buat dia”
sejenak kami terdiam, lalu Cia kembali berbicara “Kamu mau bantu aku kan?”
“Tentu” jawabku dengan semangat “Tetapi kenapa kamu
kelihatannya kok lesu banget hari ini?”
“Nggak apa-apa kok, Cuma agak capek aja. Bunda sibuk menyiapkan kedatangan Jose dan aku
diharuskan banyak membantunya kemarin, dan hari ini aku
capek banget Vi”
“Iya, aku ngerti kok. Aku cuma agak bingung, soalnya
nggak biasanya kamu melamun gitu”
Handphone
di kantung baju Cia bergetar, ternyata ada sms yang masuk. Sesaat ku
perhatikan raut wajahnya berubah. Mata cokelatnya
membesar dan menampakan sikap tidak percaya.
“Jose sampai di Jakarta malam ini !” dia berseru dengan suara
keras. Beberapa murid menoleh kearah kami.
“Siapa Jose?” Tanya Luna.
“Bukan siapa-siapa” ucapku.
Cia terdiam memperhatikan Luna “Dia kakak ku, dan juga pacarnya Vio” ada
sedikit penekanan dalam ucapannya tersebut.
“Kenapa kamu ngomong kayak gitu ke Luna?” tanyaku pada Cia saat pulang sekolah.
Cia terdiam dan dia terus
melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, mengecek laci mejanya takut ada yang
tertinggal dan memungut sampah yang berada disekitarnya. Setelah selesai
melakukan aktivitasnya itu Cia menoleh kepadaku. Termangu melihat wajahku.
“Itu memang kenyataan kan”
Satu jawaban yang mampu
membuatku terdiam. Sejujurnya aku tidak terlalu peduli jika teman-temanku tahu
mengenai Jose, hanya saja aku berpikir sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“Kenapa? Apa kamu nggak suka, Vi?” Cia
merasa sedikit khawatir melihat mimik wajahku yang berubah menjadi sedikit
murung.
Aku memaksa sedikit tersenyum dan
menggelengkan kepalaku. “Nggak kok. Ya udah, nggak usah dipikirin katanya mau
bikin cokelat? Jadi nggak?” aku tersenyum usil sambil mencolek tangan Cia.
“Oh, iya. Tapi dirumahku nggak ada
bahan-bahannya. Nanti kita mampir ke supermarket dulu yah, Vi”
“Sip, deh. Aku juga mau beli whipe
cream, soalnya mamaku mau bikin blackforest pesanan temannya”
“Yuk, pulang!” Cia menggandeng
tanganku.
“Hayuk!” sahutku sembari membenarkan posisi tas yang kugendong.
Kami
berdua menuju gerbang sekolah yang dimana terlihat Pak Amin sudah menunggu Cia
di depan sebuah sedan hitam mewah. Dia tersenyum pada kami saat berjalan
menghampirinya dan siap membukakan pintu untuk kami berdua.
“Siap untuk pulang nona-nona?” guraunya saat kami hendak
masuk kedalam sedan itu.
“Mampir
ke supermarket dulu pak, Cia mau beli sesuatu” Cia menjawab sembari memasuki
mobil. Tak lama kami pun sudah melaju menuju supermarket dan tiba setelah
menempuh perjalanan selama 10 menit dari sekolah. Cia melompat turun saat sudah
sampai di tempat parkir lalu berlari kecil menuju pintu masuk utama
supermarket. Aku berkata pada Pak Amin untuk menunggu kami dimobil saja dan
kami akan kembali dalam waktu 20 menit dari sekarang. Pak Amin mengangguk dan
masuk kembali kedalam mobil. Aku menyusul Cia yang sudah terlebih dulu sampai
di pintu masuk supermarket. Dan kami mulai mencari barang-barang yang kami
butuhkan untuk membuat cokelat. Kami selesai dan kembali lagi ke mobil dalam
waktu 25 menit. Pak Amin tersenyum saat membukakan pintu dan membawa kami
kerumah Cia dalam waktu 20 menit berkendara. Sampai dirumah Cia saat jam sudah
menunjukan pukul 2.30 siang.
Didalam
rumah Cia terlihat sedikit sibuk, tetapi saat kami masuk bundanya sempat
menyapa kami dan melayangkan kecupan di kedua pipi kami. Tanpa buang waktu kami
langsung menuju dapur dan membongkar seluruh isi karton cokelat yang kami bawa,
menyiapkan alat-alat yang diperlukan dan merebus air untuk melelehkan cokelat.
Pukul 5.00 sore kami baru menyelesaikan semua pekerjaan kami. Aku sudah berniat
pulang karena mama sudah menelponku untuk segera pulang. Tetapi Cia
menghalangiku untuk segera pulang dengan segala cerita yang dia ceritakan
padaku seolah-olah aku wajib mengetahui semua hal itu. Sampai akhirnya aku bisa
terbebas darinya karena mama sudah menelponku sampai 2 kali. Aku menolak
tawaran baik dari Pak Amin untuk mengantarku pulang karena rumahku hanya 3 blok
dari rumah Cia, dan aku memilih untuk berjalan kaki saja.
Selama
di perjalanan pulang pikiranku melayang-layang kembali pada 6 bulan yang lalu.
Semua kata-kata janji itu kembali menyesap kedalam hatiku. Sebelum dia pergi
untuk melanjutkan studinya di Peru dia mengatakan janji itu. Janji bahwa dia
akan kembali dengan pendar bintang yang akan dia bawakan untukku. Dan adegan
itu kembali terulang kembali di benakku.
“Kamu tahu?” aku bertanya padanya, dia menoleh padaku dan
membelai rambutku. Malam itu sangat dingin dan angin sukses menambah dinginnya
malam itu. Kami berada di taman belakang rumahnya. Cia sedang ke dapur untuk
mengambil soda tambahan untuk kami.
“Apa?” jawabnya. Aku mengamati wajahnya, sepasang alisnya
tegas menghiasi kedua bola matanya yang berwarna kehijauan, matanya berbeda
dari Cia yang berwarna cokelat walaupun mereka kakak-beradik. Kulitnya putih
pucat kontras dengan warna rambutnya yang hitam. Hidungnya mancung dan bibirnya
berwarna koral. Dia tampan, sangat tampan bagiku. Tubuhnya kekar karena sering
pergi ke pusat kebugaran dan tingginya sekitar 180 cm.
“Tidak akan ada malam dan siang jika tidak ada bintang,
bahkan tidak akan ada kehidupan” aku berkata sambil menerawang ke langit,
mencari bintang yang paling terang dan berkata dalam hati bahwa bintang itu
akan segera mati dan berubah menjadi black
hole.
“Aku tahu” dia merangkul bahuku dan menyenderkannya ke bahunya.
”Tetapi apakah kau tahu? Aku bisa memunculkan pendaran
bintang itu padamu” dia berkata kepadaku.
“Seperti dalam dongeng itu?” aku merebahkan kepalaku di
bahu nya.
“Ya, seperti dongeng itu, aku akan pulang Vi, itu pasti.
Dan aku akan membawa pendaran bintang itu pada mu.” Dia mengelus rambutku
dengan lembut.
Sesungguhnya hal yang paling kuinginkan saat ini adalah
dapat bersama dengannya lebih lama lagi, karena keesokan harinya setelah
mengucapkan janji itu, dia pergi meninggalkan diriku.
Saat aku sampai dirumah jam telah menunjukan pukul 06.00
sore. Aku menolak tawaran makan malam dari mama dan hanya mengambil selembar
roti panggang rasa cokelat yang ada di ruang keluarga. Aku menaruh tas secara
sembarang dikamar dan merebahkan tubuhku di kasur yang empuk. Ada tanda sms masuk di ponselku. Itu sms dari Cia yang memberi tahu bahwa
Jose akan tiba pukul 08.00 nanti dan dia sudah tidak sabar untuk bertemu
dengannya. Aku membalasnya dengan mengatakan bahwa aku juga tidak sabar bertemu
dengannya. Aku melempar ponselku ke kasur dan segera beranjak ke kamar mandi
untuk menyegarkan kembali pikiran dan tubuhku agar dapat segera menyelesaikan
tugas sekolah yang bertumpuk.
Biasanya aku berangkat ke sekolah diantar oleh papa
tetapi aku terkejut karena papa ternyata telah berangkat duluan ke kantor
karena ada meeting pagi ini. Saat aku
turun untuk sarapan mama terkejut melihatku dan berkata “Kenapa kamu belum
berangkat? Teman kamu udah nunggu dari tadi di depan rumah, katanya mau bareng
berangkatnya sama kamu”
Teman? Seingatku tidak ada satu pun temanku yang ingin
berangkat sekolah dengan ku pagi ini. Dengan terburu-buru aku berlari ke teras
depan dan tampaklah siluet seorang laki-laki yang sedang duduk diatas motornya,
dia tersenyum melihatku dan melambaikan tangannya padaku. Itu dia! Pekik ku
dalam hati. Aku menghampirinya dan dia membelai rambutku seperti biasanya,
menyelipkan poniku yang terjuntai di celah kupingku.
”Hai” sapanya berbasa-basi “Apa kabar?”.
“Sangat baik” aku menjawab dengan senyum yang sangat
lebar.
“Dan bagaimana dengan mu?”
“Masih agak pusing, tapi yah aku baik” dia tetap
tersenyum dan dia telah membuatku terpesona oleh senyumannya.
“Siap untuk ke sekolah?”
“Tunggu sebentar, aku akan mengambil tas dulu” aku
berlari kedalam dan menyambar tas ku, kemudian memberikan kecupan ringan di
pipi mama yang sedang menyantap semangkuk bubur jagung dan berlari keluar. Dia sudah
memakai helmnya dan menyalakan motornya. Aku melompat ke jok belakang dan
memakai helm yang dia berikan.
“Sudah siap?” tanya nya.
“Siap!” aku berseru dengan antusias. Dia mengemudikan
motornya dengan hati-hati dan tidak terlalu ngebut.
Kami sampai di gerbang sekolah tepat pukul 06.20. Saat aku turun dia membuka
helmnya dan berkata bahwa dia akan menjemputku sepulang sekolah. Aku mengangguk,
tersenyum dan memberikan helm padanya lalu berjalan memasuki gerbang sekolah
sambil melambaikan tangan.
Hari itu sekolah berlalu dengan sangat cepat. Sepanjang
hari itu Cia terus membicarakan Jose dan kepulangannya. Sedangkan aku tidak
sabar menunggu bel pulang berbunyi agar bisa segera bertemu dengannya.
Pikiranku melayang, teringat akan potongan dongeng itu. Dongeng dimana sang
pangeran memikat hati sang putri dengan pendar-pendar bintang yang secara ajaib
keluar dari sebuah kantung yang dibawanya. Aku hanya ingat bagian itu, karena
saat aku masih kecil mama belum sempat menyelesaikan ceritanya.
“Sangat romantis” gumamku dalam hati.
Bel pulang akhirnya berbunyi, dan semangatku tiba-tiba
saja meningkat dua ratus persen saat mendengarnya. Aku berjalan bersama Cia
menuju gerbang sekolah dan menunggu.
Lima belas menit lamanya kami menunggu sampai akhirnya
sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan kami. Pak Amin keluar dan membukakan
pintu untuk Cia. Cia bersikeras tidak mau pulang sebelum Jose sampai kesini.
Pak Amin bingung karena sepengetahuannya Jose sudah berangkat sejak 30 menit
yang lalu. Aku menghubungi ponselnya namun tidak aktif. Cia mulai khawatir dan
menggigiti kuku jarinya sambil berjalan berputar-putar. Ponsel Cia berdering,
panggilan itu dari Bundanya. Dia mengangkat telepon dan wajahnya berubah
menjadi pucat pasi. Dia menjatuhkan ponselnya dan menangis meraung-raung. Aku
mencoba menenangkannya dan menanyakan apa yang terjadi. Tetapi dia tidak
berkata apapun selain menyebutkan nama salah satu rumah sakit. Pak Amin
memapahnya untuk masuk ke mobil dan menyuruhku masuk juga. Di dalam mobil aku
berusaha menenangkan Cia dan menanyakan apa yang terjadi, namun dia hanya
menangis sambil menarik-narik rambutnya.
Kami sampai di depan sebuah rumah sakit terkenal di
Jakarta. Raut wajah Pak Amin pun berubah menjadi panik. Sambil menggandeng
tangan Cia dia berjalan menuju Gedung Unit Gawat Darurat. Aku mengikutinya dari
belakang dan bertanya-tanya siapakah yang sakit. Pertanyaanku terjawab setelah
aku melihat Bundanya Cia menangis terisak di depan sebuah Ruang ICU dan
terpampang jelas dari kaca pada pintu ruangan bahwa orang yang berbaring di
dalam adalah Jose. Lututku langsung lemas dan terduduk ke lantai. Air mata
mengalir dari kedua mataku. Pak Amin membantuku berdiri dan mendudukanku di
hadapan Cia dan Bundanya. Mereka tampak sangat terpukul dan sedih. Dan aku
tidak bisa menghentikan air mata yang meleleh dari kedua pelupuk mataku ini. Aku
tidak dapat membayangkan bahwa laki-laki yang kusayangi terbaring dalam ruangan
itu.
Hampir selama satu jam aku menangis dalam diam. Sampai
akhirnya dokter keluar dan mengatakan bahwa Jose sedang dalam kondisi koma. Dia
mengalami gegar otak yang cukup parah dan ada beberapa tulang yang patah dan
retak. Bundanya hanya bisa menangis lagi. Dokter menyuruhnya untuk sabar dan
tetap berdoa. Pukul lima sore dia menyuruh Pak Amin mengantarku dan Cia pulang.
Namun Cia merengek tidak mau pulang dan mau terus menemani Bundanya di sini.
Aku pun berusaha membujuk supaya dia mau pulang, tetapi dia bersikeras dan
akhirnya aku pulang sendiri.
Keheningan mencekam selama aku ada di mobil. Pak Amin
hanya diam, tidak seperti biasanya, dia suka bergurau atau menanyakan hal-hal
sepele. Saat tiba di depan rumahku dia mengatakan agar aku bersabar dan
berlapang dada menghadapi semuanya. Aku tersenyum getir kepadanya dan kemudian
masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan apapun lagi.
Sudah seminggu setelah kecelakaan itu, tetapi Cia belum
juga masuk sekolah. Ponselku bergetar dan ada sebuah pesan dari Cia yang
mengatakan bahwa aku harus ke Rumah Sakit setelah pulang sekolah.
Aku sempat ragu-ragu saat mendekati ruang perawatan itu.
Kemudian aku berpapasan dengan Bunda Cia yang mengajakku masuk sambil
tersenyum. Senyum yang sangat lelah, seakan-akan dia terus bekerja dan tidak
istirahat selama berhari-hari. Aku tersenyum tipis lalu masuk ke dalam. Cia
menghambur ke pelukanku dan berkata betapa rindunya dia padaku. Aku tersenyum
dan membalas pelukannya. Dibalik tirai biru itu terbaring seseorang yang
kurindukan. Dia menengok ke arahku dan tersenyum. Aku menghampirinya dan
menggenggam bagian tangannya yang tidak ditusuk jarum infus.
“Aku merindukanmu”
“Aku juga” jawabnya sembari menggenggam tanganku.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Tidak terlalu buruk, hanya luka kecil” jawabnya sambil menunjukan
sikapnya yang sok kuat.
Aku mencibirnya dan dia pun tertawa kecil. Kemudian
tangannya melepas genggamanku dan membelai pipiku. Wajahnya tampak lesu namun dipaksakan
untuk terlihat ceria dan segar.
“Datanglah malam ini ke taman belakang. Ke tempat kau
biasanya memandangi bintang-bintang dan berandai-andai” dia berbisik di
telingaku.
“Untuk apa?” Tanyaku.
“Datang saja dan kau akan melihat sesuatu yang sangat menarik”
ujarnya seraya mencubit hidungku.
“Oke” aku tersenyum. Senyum yang dipaksakan karena
sesungguhnya aku sangat ingin menangis melihat keadaannya.
Kemudian kami mengobrol ringan dan tertawa bersama.
Bundanya masuk dan menawarkan kami kudapan. Aku mengambil beberapa dan menyuapinya
kudapan itu. Hari sudah sore saat jam besuk sudah habis dan aku terpaksa harus
pulang. Pak Amin mengantarku sampai rumah dan tersenyum padaku saat aku
melambaikan tangan padanya.
Malam itu pukul delapan, aku sudah berada di taman yang
dimaksudkan Jose. Aku duduk disebuah bangku dan memandang ke langit. Malam ini
langitnya cerah dan banyak bintang bertaburan diatas sana. Tidak lama kemudian
Jose datang menghampiriku dengan sebuah kursi roda. Dia terlihat tampan walau
lebih pucat dari biasanya.
“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk datang kesini” aku
berkata sambil mendorong kursi rodanya.
“Aku tidak memaksakan diriku, aku memang ingin datang
kesini dan melihat bintang-bintang”
“Jadi kau hanya kesini untuk melihat bintang dan bukan
untuk bertemu denganku” jawabku sambil memasang raut pura-pura sebal.
Dia tertawa sejenak lalu mengeluarkan sebuah kantung.
“Aku ingin menepati janjiku padamu” suaranya lebih lembut
namun dalam.
“Janji?”
“Kemarilah” Jose menyuruhku untuk berhenti dan berdiri di
depannya.
“Apa itu?” tanyaku sambil menunjuk kantung yang
dibawanya.
“Kau akan terkejut melihatnya karena aku berhasil
memecahkan teka-teki dongengmu itu” matanya berbinar-binar dan kemudian dia
membuka kantung itu. Penghuni kantung itu berebut untuk keluar dan menghirup
udara malam yang sejuk. Pendar-pendar cahaya terlihat menawan saat mereka
terbang kesana kemari. Aku terpana melihat keindahan malam itu. Selama beberapa
menit aku terhipnotis oleh keindahan itu sampai-sampai tidak menyadari sosok
laki-laki di depanku ini semakin melemah dan tidak sadarkan diri. Aku bingung
dan dengan panik menghubungi ponsel Cia untuk meminta bantuan. Lalu yang
kuingat sisa malam itu hanyalah diisi oleh isak tangis dan suara sirine
ambulans.
Kenangan itulah satu-satunya menjadi pengingatku tentang
seseorang yang pernah kusayangi. Karena keesokan harinya dia telah berubah
menjadi pendar-pendar cahaya yang berterbangan di langit untuk mengusir
kegelapan malam.

No comments:
Post a Comment